SENANEWS.ID, CARACAS – Nicolas Maduro Guerra, putra Presiden Venezuela Nicolas Maduro, menyerukan rakyat Venezuela untuk turun ke jalan menyusul penangkapan ayahnya oleh Amerika Serikat (AS) atas tuduhan narkoterorisme.
Dalam sebuah pesan audio yang beredar luas di media sosial, Minggu (4/1/2026) waktu setempat, Guerra menyampaikan seruan perlawanan dan solidaritas. Pesan tersebut dirilis sehari setelah pasukan militer AS menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di Caracas dan menerbangkan keduanya ke New York.
“Kalian akan melihat kami di jalanan. Kami akan berdiri bersama rakyat dan mengibarkan bendera martabat,” ujar Guerra dalam rekaman audio tersebut, seperti dikutip AFP, Senin (5/1/2026).
Sejumlah ajudan mengonfirmasi keaslian rekaman itu. Guerra sendiri merupakan anggota Kongres Venezuela dan berusia 35 tahun. Ia menegaskan penangkapan tersebut tidak akan melemahkan pendukung pemerintah. “Mereka ingin kita terlihat rapuh, tetapi itu tidak akan terjadi,” katanya.
Guerra termasuk salah satu dari enam orang yang didakwa otoritas AS dalam kasus narkoterorisme, bersama Maduro dan ibu tirinya, Cilia Flores. Ia merupakan satu-satunya anak kandung Maduro dari pernikahan pertamanya dengan Adriana Guerra Angula, sementara tiga anak lainnya merupakan anak Flores.
Operasi militer AS yang berhasil menangkap Maduro dari ibu kota Caracas memicu spekulasi luas soal adanya pengkhianatan dari lingkaran dalam kekuasaan Venezuela. Menanggapi isu tersebut, Guerra menyatakan sejarah akan mengungkap siapa pihak yang berkhianat.
“Sejarah akan membuktikannya. Kita akan melihat siapa pengkhianat sebenarnya,” ucapnya.
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa chavismo, gerakan sosialis anti-imperialis yang dirintis mendiang Hugo Chavez, tetap akan bertahan meski menghadapi tekanan besar.
Ribuan Pendukung Turun ke Jalan
Sementara itu, sekitar 2.000 pendukung Maduro menggelar aksi unjuk rasa di Caracas. Mereka menuntut AS segera membebaskan Maduro dan istrinya.
Aksi tersebut dikawal kelompok paramiliter serta pengendara motor pro-pemerintah. Para demonstran mengibarkan bendera nasional Venezuela dan membawa poster bergambar Maduro.
“Bebaskan presiden kami,” bunyi salah satu poster. Poster lain bertuliskan, “Venezuela bukan koloni siapa pun,” sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington akan “mengelola” Venezuela dalam masa transisi yang belum ditentukan.
Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di New York, Senin (5/1/2026), siang waktu setempat untuk mendengarkan dakwaan resmi narkoterorisme yang diajukan terhadapnya.














