SENANEWS.ID, MAKASSAR – Tawuran antarkelompok pemuda kembali pecah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Bentrokan yang melibatkan pemuda Kampung Sapiria dan Jalan Layang di wilayah Kandea, Kecamatan Tallo, itu berujung maut. Seorang warga bernama Basir Daeng Ngalle (40)** tewas setelah terkena anak panah saat berusaha melerai pertikaian.
Peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Jumat malam (30/1/2026) di sekitar Kanal Kandea, tak jauh dari Masjid Al-Markas Al-Islami Tallo, Korban yang dikenal sebagai warga setempat mengalami luka serius di bagian dada akibat tertancap anak panah. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar, AKBP Devi Sujana, membenarkan adanya korban meninggal dunia dalam insiden tersebut. Ia mengatakan, kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap pelaku dan kronologi lengkap kejadian.
“Masih penyelidikan. Anggota masih di lapangan untuk mengumpulkan bahan keterangan,” ujar Devi, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Devi, korban terkena busur panah tepat di bagian dada saat berada di lokasi tawuran. Aparat masih menelusuri siapa pelaku yang melepaskan anak panah mematikan tersebut.
“Iya, betul satu orang meninggal dunia. Umur korban 40 tahun, kena di dada oleh busur. Semua masih kami dalami,” katanya.
Pasca-tawuran, aparat gabungan dari Unit Jatanras Polrestabes Makassar, Resmob Polda Sulawesi Selatan, serta personel Polsek Tallo langsung dikerahkan ke lokasi. Polisi berjaga-jaga untuk mencegah bentrokan susulan sekaligus menenangkan situasi yang sempat memanas.
Selain mengumpulkan keterangan saksi, petugas juga melakukan penyisiran guna mencari barang bukti serta memburu para pelaku yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Sejumlah personel disiagakan di titik-titik rawan konflik.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Percayakan sepenuhnya kepada kepolisian. Mudah-mudahan dengan penempatan personel ini situasi tetap aman,” tutur Devi.
Salah seorang saksi mata berinisial JHD mengungkapkan, tawuran dipicu oleh kedatangan sekelompok pemuda dari Jalan Layang ke wilayah Kampung Sapiria. Menurutnya, enam orang terduga pelaku masuk sambil membawa senjata tajam, busur panah, serta bensin yang diduga hendak digunakan untuk membakar kendaraan warga.
Sasaran mereka disebut adalah dua unit mobil yang terparkir di samping SD Inpres Baraya 2. Rencana tersebut diketahui oleh warga setempat dan langsung direspons dengan perlawanan hingga bentrokan tak terhindarkan.
“Mereka memang masuk ke sini mau bakar mobil. Ada dua mobil yang mau dibakar. Mereka bawa bensin, jumlahnya sekitar enam orang, bawa busur panah dan parang,” kata JHD.
Dalam situasi kacau tersebut, korban Basir Daeng Ngalle berusaha menghentikan pertikaian. Ia disebut meminta para pemuda Kampung Sapiria untuk mundur agar konflik tidak meluas. Namun nahas, saat berada di garis depan untuk melerai, sebuah anak panah melesat dan menancap di dadanya.
“Dia mau melerai, suruh anak-anak itu mundur. Tapi dia di depan, kena busur di dadanya. Waktu itu banyak yang saling serang pakai busur, ada juga yang bawa parang,” ujar saksi.
Tawuran antarkelompok pemuda di wilayah tersebut bukanlah kejadian baru. Konflik antara dua kampung itu disebut telah berlangsung lama dan kerap berulang. Beberapa insiden sebelumnya bahkan menyebabkan pembakaran rumah, perusakan kendaraan, hingga korban jiwa.
Catatan warga setempat menyebut, konflik Sapiria dan Layang telah terjadi sejak 1989 dan hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Aparat kepolisian pun menegaskan akan menindak tegas pelaku tawuran serta meningkatkan pengamanan guna mencegah tragedi serupa terulang kembali. (Yor)














