SENANEWS.ID, SYDNEY – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mendapat sambutan tidak bersahabat saat menghadiri acara doa bersama di Bondi Beach, Sydney, sekitar sepekan setelah tragedi penembakan massal yang menewaskan sedikitnya 15 orang.
Saat namanya diumumkan dari atas panggung, terdengar sorakan ejekan dari sebagian hadirin, sebagaimana dilaporkan Sky News, Minggu (21/12/2025). Beberapa orang bahkan berteriak “memalukan” serta “Anda tidak diterima di sini”.
Reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan sebagian warga yang menilai pemerintah federal belum menunjukkan sikap tegas dalam merespons meningkatnya aksi antisemitisme di Australia. Situasi ini sangat berbeda dengan sambutan yang diterima Menteri Utama New South Wales, Chris Minns, yang justru disambut tepuk tangan panjang dan standing ovation.
Minns menuai apresiasi karena dinilai hadir secara konsisten mendampingi komunitas Yahudi sejak insiden berdarah itu terjadi. Ia tercatat beberapa kali menghadiri pemakaman korban serta berbagai kegiatan keagamaan sebagai bentuk solidaritas.
Doa bersama di Bondi Beach berlangsung dengan pengamanan ketat, termasuk kehadiran aparat kepolisian bersenjata lengkap. Tepat pukul 18.47 waktu setempat, para peserta mengheningkan cipta selama satu menit untuk mengenang para korban. Beberapa hari sebelumnya, sekitar 700 orang juga menggelar aksi solidaritas dengan turun ke laut menggunakan papan selancar dan paddle board, membentuk lingkaran besar di perairan Bondi.
Serangan mematikan tersebut memunculkan sorotan terhadap celah dalam sistem perizinan senjata api, sekaligus lemahnya pertukaran data antarinstansi keamanan di Australia.
Tinjauan nasional
Sebelum menghadiri acara doa bersama, Albanese lebih dulu mengumumkan pembentukan tinjauan nasional terhadap kinerja kepolisian dan lembaga intelijen, tepat sepekan setelah insiden penembakan di Bondi Beach.
Ia menyampaikan bahwa tinjauan tersebut akan dipimpin mantan kepala badan intelijen Australia dan difokuskan untuk mengevaluasi kesiapan aparat dalam menghadapi ancaman teror.
“Tinjauan ini akan mengkaji apakah kepolisian federal dan badan intelijen memiliki kekuatan, struktur, proses, serta mekanisme berbagi informasi yang memadai untuk melindungi masyarakat Australia,” ujar Albanese dalam pernyataannya.
Selain itu, ia juga mengumumkan rencana penerapan program pembelian kembali senjata api (buyback) secara nasional. Meski begitu, sejumlah pengamat menilai regulasi senjata Australia masih menyisakan celah. Padahal termasuk regulasi paling ketat di dunia.














