Perbedaan utama terletak pada formulasi dan proses pembuatannya. Menurut Gabrielle Nekrasas, sabun batang dibuat melalui proses saponifikasi, yaitu pencampuran minyak, lilin, dan alkali.
“Sabun batang dibuat melalui proses kaustik atau penambahan minyak dan lilin serta alkali,” kata Gabrielle Nekrasas, ahli kimia kosmetik dari Amerika Serikat yang juga founder dan CEO dari Nanuvo Lab, Minggu (10/5/2026).
Ia menambahkan, campuran tersebut biasanya didiamkan selama enam hingga delapan minggu hingga reaksi kimia selesai. Sementara itu, sabun cair dibuat dengan proses berbeda dan umumnya memiliki tekstur yang lebih lembut sehingga cenderung tidak membuat kulit terasa kering.
Dokter spesialis kulit Hayley Goldbach menjelaskan, kandungan air dalam sabun cair memungkinkan produsen menambahkan berbagai bahan seperti pelembap, ekstrak tumbuhan, hingga eksfoliator. Hal ini membuat sabun cair lebih fleksibel untuk mengatasi kebutuhan kulit tertentu.
Kelebihan dan Kekurangan Sabun Batang
Sabun batang memiliki formula tanpa air, sehingga risiko pertumbuhan bakteri lebih rendah jika disimpan dengan benar. Selain itu, produk ini biasanya tidak membutuhkan banyak bahan pengawet.
Keunggulan lainnya adalah lebih ramah lingkungan karena umumnya dikemas dengan kertas atau karton, bukan botol plastik.
Namun, sabun batang biasanya memiliki pH yang lebih tinggi, sekitar 9 hingga 10. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki kulit sensitif, kondisi ini dapat membuat kulit terasa kering.
Meski demikian, banyak sabun batang modern kini diperkaya minyak alami dan bahan pelembap untuk mengurangi efek tersebut.
“Banyak orang yang tidak senang dengan sabun batang sebab dikenal meninggalkan lapisan lengket di kulit bahkan di kamar mandi,” jelas Goldbach.
Kelebihan dan Kekurangan Sabun Cair
Sabun cair banyak dipilih karena teksturnya lebih lembut dan sering mengandung bahan seperti emolien, ceramide, dan humektan yang membantu menjaga kelembapan kulit.
Kemasan tertutup juga membuat sabun cair dianggap lebih higienis karena lebih terlindung dari kontaminasi.
Selain itu, pH sabun cair dapat disesuaikan agar mendekati pH alami kulit.
“Ini sangat bermanfaat untuk mereka yang punya kulit kering,” kata Goldbach.
Di sisi lain, sabun cair umumnya dikemas dalam botol plastik dan membutuhkan bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan jamur maupun bakteri. Karena itu, produk ini dinilai kurang ramah lingkungan dibandingkan sabun batang.
Mana yang Lebih Baik?
Pilihan terbaik tergantung pada kondisi kulit masing-masing. Jika kulit sensitif dan mudah iritasi, sabun batang dapat menjadi pilihan karena formulanya sering kali lebih sederhana dan minim bahan tambahan.
Sebaliknya, jika kulit cenderung kering, kasar, atau terasa tertarik setelah mandi, sabun cair biasanya lebih cocok karena kandungan pelembapnya lebih banyak.
Bagi penderita masalah kulit seperti eksim atau jerawat, sabun cair juga kerap direkomendasikan karena lebih mudah diformulasikan dengan bahan aktif tertentu.
“Banyak pilihan sabun cair saat ini diformulasikan agar selembut dan senyaman yang dibutuhkan kulitmu,” tambah Nekrasas.
Apa pun jenis sabun yang digunakan, pilih produk yang mengandung bahan pelembap seperti ceramide, glycerin, serta minyak alami seperti avocado oil, argan oil, dan coconut oil.
Bahan seperti lactic acid dan salicylic acid juga dapat membantu eksfoliasi kulit secara lembut.
Untuk kulit sensitif, hindari sabun yang mengandung pewangi, triclosan, dan bahan antibakteri yang terlalu keras karena berisiko memicu iritasi serta mengganggu keseimbangan bakteri baik pada kulit.













