SENANEWS.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait kebijakan luar negeri negaranya di kawasan Amerika Latin. Trump menyatakan tidak mengesampingkan kemungkinan Amerika Serikat melakukan operasi militer di Kolombia dengan dalih menumpas produksi dan peredaran kokain yang selama ini dituding mengalir ke pasar Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu, 4 Januari. Dalam kesempatan tersebut, Trump melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Kolombia di bawah Presiden Gustavo Petro, yang ia tuduh gagal—bahkan sengaja—membiarkan industri narkotika berkembang.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan melakukannya untuk waktu yang lama, percayalah. Dia punya pabrik kokain dan pabrik kokain,” ujar Trump, merujuk langsung kepada Petro.
Trump bahkan menilai gagasan pengerahan kekuatan militer AS ke Kolombia sebagai langkah yang masuk akal. “Itu terdengar sangat bagus,” kata Trump singkat, ketika ditanya soal opsi operasi militer lintas batas.
Retorika Lama, Eskalasi Baru
Pernyataan Trump menandai eskalasi terbaru dalam retorika kerasnya terhadap negara-negara Amerika Latin yang dituduh menjadi sumber utama narkotika ilegal di Amerika Serikat. Selama masa kepresidenannya, Trump dikenal mendorong pendekatan keamanan dan militer dalam memerangi narkoba, termasuk melalui tekanan diplomatik, sanksi ekonomi, hingga ancaman intervensi langsung.
Namun, ancaman terhadap Kolombia memiliki bobot politik tersendiri. Kolombia selama puluhan tahun merupakan sekutu strategis Washington di Amerika Selatan, khususnya dalam kerja sama keamanan dan pemberantasan narkotika melalui program Plan Colombia. Pernyataan Trump dinilai berpotensi mengguncang hubungan bilateral yang selama ini relatif stabil.
Operasi Militer di Venezuela Jadi Latar
Ancaman terhadap Kolombia muncul hanya sehari setelah Trump mengumumkan operasi militer besar-besaran Amerika Serikat di Venezuela. Pada Sabtu sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah melancarkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Trump mengklaim operasi tersebut bertujuan memulihkan stabilitas politik Venezuela yang selama bertahun-tahun dilanda krisis ekonomi, politik, dan kemanusiaan. Ia juga menyebut Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela untuk sementara waktu hingga proses transisi pemerintahan berlangsung aman.
Selain itu, Trump menegaskan komitmen AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang ia sebut telah “rusak” akibat salah kelola pemerintahan sebelumnya. Pernyataan ini memicu kekhawatiran internasional terkait kedaulatan Venezuela dan potensi pendudukan de facto oleh kekuatan asing.
Kekhawatiran Regional dan Internasional
Langkah dan pernyataan Trump memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Amerika Latin. Penggunaan dalih perang melawan narkotika untuk membenarkan operasi militer lintas negara dinilai dapat memperburuk stabilitas regional dan membuka babak baru intervensi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump juga sarat kepentingan politik domestik, terutama untuk menunjukkan sikap keras terhadap narkoba dan keamanan nasional menjelang dinamika politik di dalam negeri AS.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Kolombia terkait ancaman tersebut. Namun, pernyataan Trump diperkirakan akan memicu respons keras dari Bogotá serta negara-negara Amerika Latin lainnya yang selama ini menentang intervensi militer asing.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti














