SENANEWS.ID, JAKARTA – Grooming merupakan proses manipulasi ketika seseorang secara bertahap membangun hubungan, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan seorang anak.
Psikolog Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., menjelaskan bahwa child grooming dilakukan dengan tujuan untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak.
“Pada dasarnya selalu ada niat buruk, yakni keinginan untuk memanipulasi, melakukan kekerasan seksual, atau mengeksploitasi anak,” ujar Farraas, Selasa (13/1/2026).
Istilah child grooming kerap dikaitkan dengan pedofilia, yakni ketertarikan seksual terhadap anak-anak yang masih di bawah umur.
Grooming dapat terjadi di ruang digital, terutama melalui media sosial atau aplikasi perpesanan. Pelaku biasanya memulai pendekatan dengan berkenalan dan menunjukkan perhatian melalui pesan-pesan pribadi yang tampak wajar dan tidak mencurigakan.
Seiring waktu, pelaku membangun hubungan emosional hingga anak merasa nyaman dan memercayainya. Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai mengajukan permintaan yang mengarah pada eksploitasi, seperti meminta foto atau data pribadi.
Menurut Farraas, anak yang telah dimanipulasi sering kali memenuhi permintaan tersebut karena merasa disayangi.
“Sering muncul anggapan ‘dia mau sendiri’. Padahal, ‘kemauan’ itu bisa muncul akibat manipulasi yang disebut grooming,” ucapnya.
Grooming di dunia maya kerap terjadi karena sebagian anak merasa kurang nyaman atau tidak diterima di lingkungan nyata. Media sosial kemudian dijadikan tempat pelarian.
Di ruang digital, anak dapat membentuk identitas yang berbeda atau berpura-pura menjadi sosok lain.
Farraas menuturkan, ada anak yang sengaja menampilkan diri lebih dewasa demi mendapatkan pujian dan perhatian. Kondisi ini membuka celah bagi pelaku untuk masuk dengan memberikan validasi yang sedang dicari oleh anak.
Tanda-tanda Anak Mengalami Grooming
Mengacu pada situs Layanan Polisi Irlandia Utara, terdapat sejumlah tanda yang dapat mengindikasikan seorang anak menjadi korban grooming daring. Di antaranya perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti penggunaan internet yang meningkat drastis atau justru menurun, lebih sering berada di luar rumah, atau menghilang dari rumah, maupun sekolah.
Tanda lainnya adalah anak menjadi lebih tertutup soal aktivitasnya, terutama saat menggunakan gawai. Anak juga bisa menerima hadiah dengan asal-usul yang tidak jelas, menyalahgunakan alkohol atau narkoba, serta menjalin hubungan atau pertemanan dengan orang yang jauh lebih tua.
Selain itu, anak mungkin mulai menggunakan bahasa bernuansa seksual yang tidak sesuai usia, atau menunjukkan emosi negatif seperti mudah marah, gelisah, sedih, menarik diri, stres, cemas, hingga depresi.
Jika anak menggunakan gawai dan media sosial, peran orangtua tetap penting dalam mengawasi penggunaannya. Orang tua disarankan menetapkan aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Misalnya, gawai yang digunakan merupakan milik orangtua yang dipinjamkan, dengan batasan penggunaan hanya untuk keperluan tertentu seperti komunikasi terkait sekolah. Pendampingan ini penting untuk meminimalkan risiko anak menjadi sasaran grooming di dunia maya.














