SENANEWS.ID, JAKARTA – Suplemen kerap dianggap sebagai cara praktis untuk meningkatkan kesehatan jantung. Namun, sejumlah ahli gizi mengingatkan bahwa beberapa jenis suplemen justru berpotensi membahayakan organ tersebut, terutama jika dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Mengutip siaran Eating Well, Sabtu (21/2/2026) waktu setempat, konsumsi suplemen sebaiknya mendapat bimbingan profesional kesehatan, khususnya bagi individu yang memiliki gangguan jantung atau berisiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular.
Para ahli menyebutkan sedikitnya enam jenis suplemen yang tidak disarankan untuk menjaga kesehatan jantung.
Vitamin E
Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, dalam dosis tinggi seperti yang terdapat pada suplemen, zat ini dinilai berisiko.
Ahli Gizi Bess Berger, RDN, menjelaskan bahwa vitamin E sempat diyakini mendukung kesehatan jantung. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan konsumsi dosis tinggi dapat meningkatkan risiko gagal jantung dan stroke hemoragik.
Ahli Gizi Violeta Morris, M.S., RDN, menambahkan rekomendasi untuk tidak mengonsumsi suplemen vitamin E didasarkan pada dua uji klinis yang menemukan peningkatan risiko stroke hemoragik pada dosis 111 dan 200 IU per hari. Gugus Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) pun merekomendasikan agar vitamin E tidak digunakan untuk mencegah penyakit kardiovaskular.
Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan memperoleh vitamin E dari sumber alami seperti minyak nabati, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran hijau.
Kalsium
Suplemen kalsium yang umum dikonsumsi untuk kesehatan tulang juga dinilai perlu diwaspadai. Morris mengutip studi yang menganalisis 13 uji coba terkontrol secara acak dan menemukan bahwa suplemen kalsium meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 15 persen pada wanita pascamenopause yang sehat.
Berger menambahkan kalsium dapat berkontribusi pada kalsifikasi arteri, yakni penumpukan kristal kalsium pada dinding arteri yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
Meski demikian, suplemen kalsium tetap dapat bermanfaat untuk mencegah osteoporosis, terutama bagi individu yang kesulitan memenuhi kebutuhan kalsium dari makanan. Konsultasi dengan tenaga medis tetap dianjurkan sebelum mengonsumsi suplemen ini.
Suplemen Energi atau Penurun Berat Badan
Banyak suplemen energi dan penurun berat badan mengandung stimulan seperti kafein atau senyawa mirip efedra. Konsumsi kafein dari kopi atau teh dalam jumlah sedang umumnya aman, bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung.
Namun, suplemen berkafein dosis tinggi dapat memberikan efek sebaliknya.
“Hal ini dapat menyebabkan tekanan pada sistem kardiovaskular, meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, serta berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung,” kata Berger.
Beta Karoten
Beta karoten merupakan antioksidan yang terdapat pada sayuran berwarna kuning, oranye, hijau, serta tomat. Meski bermanfaat jika diperoleh dari makanan, konsumsi dalam bentuk suplemen dinilai berisiko.
USPSTF menyimpulkan bahwa suplementasi beta karoten, terutama pada perokok, dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Studi menunjukkan konsumsi 20-30 miligram beta karoten per hari meningkatkan risiko tersebut pada kelompok perokok.
Morris menyebut potensi bahaya ini diduga akibat interaksi antara beta karoten dosis tinggi dengan senyawa dalam asap tembakau.
Akar Manis (Licorice)
Suplemen akar manis atau licorice sering dipromosikan untuk kesehatan pencernaan, menopause, batuk, dan infeksi. Namun, manfaat tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai.
Ahli Gizi Michelle Routhenstein, M.S., RD, CDCES, CDN, mengatakan suplemen licorice mengandung glisirizin yang dapat menyebabkan tubuh menahan natrium dan meningkatkan tekanan darah. Kondisi ini berbahaya, terutama bagi penderita hipertensi.
Beras Ragi Merah
Beras ragi merah banyak digunakan sebagai suplemen penurun kolesterol. Menurut Routhenstein, bahan aktifnya, monacolin K, memiliki struktur yang sama dengan obat lovastatin.
Ia memperingatkan monacolin K berisiko menyebabkan kerusakan otot, ginjal, dan hati. Selain itu, sebagian produsen tidak mencantumkan kadar monacolin K secara jelas, bahkan ada yang menambahkan lovastatin secara ilegal ke dalam produknya.
Alih-alih bergantung pada suplemen, para ahli menyarankan pendekatan gaya hidup sehat untuk menjaga jantung.
Aktivitas fisik secara rutin dapat memperkuat otot jantung, meningkatkan aliran darah, serta menurunkan risiko serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Mengelola stres juga penting karena stres dapat meningkatkan tekanan darah dan peradangan.
Selain itu, tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung. Kurang tidur diketahui meningkatkan risiko hipertensi dan peradangan.
Para ahli juga menekankan pentingnya pola makan sehat yang kaya buah dan sayuran. Pola makan tersebut secara konsisten dikaitkan dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Konsumsi biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta minyak nabati non-tropis juga dianjurkan untuk mendukung kesehatan jantung secara menyeluruh.














