SENANEWS.ID, JAKARTA – Stres tidak hanya berdampak pada kesehatan mental. Dalam jangka panjang, tekanan psikologis dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit serius, termasuk gangguan jantung. Selain itu, stres ternyata juga bisa memicu kenaikan suhu tubuh meski tidak ada infeksi.
Chief Quality and Information Executive L.A. Care Health Plan, Katrina Miller Parrish, menjelaskan ada fenomena di mana stres dapat meningkatkan suhu inti tubuh tanpa disertai tanda peradangan seperti infeksi atau cedera.
Kondisi ini dikenal sebagai demam psikogenik atau psychogenic fever, yakni peningkatan suhu tubuh yang dipicu oleh tekanan psikis. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Temperature pada 2015, seseorang umumnya didiagnosis mengalami demam psikogenik jika suhu tubuhnya melebihi 37 derajat celcius saat berada dalam situasi stres, baik akut maupun kronis.
Sebelum memastikan diagnosis, tenaga medis perlu menyingkirkan kemungkinan penyebab lain seperti infeksi.
Hingga kini, mekanisme pasti di balik fenomena tersebut belum sepenuhnya dipahami. Namun, para ahli menduga otak berperan dalam menaikkan suhu tubuh sebagai respons terhadap tekanan, atau melalui interaksi hormon stres dengan sistem endokrin.
Penelitian pada jurnal Science tahun 2020 juga menunjukkan bahwa stres memengaruhi hipotalamus (bagian otak yang mengatur suhu tubuh) meski temuan ini masih perlu dikaji lebih lanjut pada manusia.
Demam psikogenik dapat dialami oleh siapa saja, tetapi cenderung lebih sering terjadi pada perempuan. Studi dalam jurnal BioPsychoSocial Medicine tahun 2009 yang melibatkan 2.705 pasien di Jepang menemukan sekitar 2 persen di antaranya mengalami kondisi ini, dengan mayoritas penderita adalah perempuan.
Menurut Miller Parrish, angka pasti kasusnya sulit diketahui karena banyak yang tidak terlaporkan. Ia menilai, jika seluruh individu yang mengalami stres dihitung, kemungkinan jumlah kasus hipertermia akibat stres sebenarnya cukup besar.
Dari sisi gejala, demam psikogenik tidak jauh berbeda dengan demam pada umumnya. Penderita bisa merasakan tubuh panas, wajah memerah, menggigil, nyeri otot, hingga kelelahan. Pada stres yang datang tiba-tiba, gejala biasanya lebih mudah dikenali.
Namun pada stres kronis, seperti beban merawat anggota keluarga yang sakit, tanda-tandanya bisa muncul perlahan dan sulit disadari.
Karena itu, penting memastikan tidak ada penyakit fisik lain yang menjadi penyebab. Misalnya, jika demam disertai pilek atau batuk, kemungkinan besar terkait infeksi ringan seperti flu. Bagi yang sering mengalami demam tanpa sebab jelas, disarankan mencatat suhu tubuh, gejala, serta durasinya secara rutin.
Jika kondisi tersebut berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebabnya. Bila faktor medis telah disingkirkan namun suhu tubuh tetap tinggi, pendekatan psikologis dan upaya pengelolaan stres bisa menjadi solusi.
Penanganan utama kondisi ini adalah mengurangi tingkat stres. Umumnya, hipertermia akibat stres bersifat sementara dan dapat mereda dengan sendirinya. Metode non-medis seperti mindfulness, terapi, atau relaksasi terbukti membantu.
“Jika demam dipicu oleh stres, maka kunci utamanya adalah mengurangi stres itu sendiri,” ujar Miller Parrish.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali pemicunya, apakah berasal dari tekanan emosional, kecemasan, depresi, atau kelelahan kerja. Setelah itu, penanganan bisa disesuaikan, mulai dari terapi perilaku kognitif, konseling psikologis, meditasi, yoga, hingga penggunaan obat bila diperlukan.














